Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 21 Oktober 2011

Pemanfaatan Bulu Ayam sebagai Sumber Protein pada Ternak Ruminansia

 Oleh Priyono, S.Pt, M.Si
Staf Dosen Peternakan Universitas Muhammadiyah Purworejo

Ayam merupakan ternak unggas yang banyak dipelihara dan dibudidayakan baik dalam skala besar, menengah maupun skala kecil. Hampir semua masyarakat di Pedesaan memelihara ayam, meskipun skala kepemilikannya kecil dan digunakan hanya sebagai tabungan. Hal ini menunjukkan bahwa budidaya ternak ayam sangat digemari oleh masyarakat maupun pengusaha ternak.

Ternak ayam merupakan ternak yang dapat dijadikan sebagai penghasil daging dan telur. Produk ternak ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai sumber pemenuhan kebutuhan protein hewani asal ternak. Dewasa ini, kebutuhan akan produk ternak berupa daging dan telur setiap tahun selalu meningkat seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk. Keadaan ini akan memberikan peluang untuk investasi usaha dibidang peternakan, dimana selain memperoleh keuntungan usaha juga akan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Daging ayam sangat digemari masyarakat karena selain memiliki rasa yang enak, juga harganya lebih terjangkau di masyarakat. Selain itu, pemeliharaan ayam juga relatif singkat waktunya, sehingga perputaran usaha akan lebih cepat. Hal ini tentunya akan mempermudah dilakukannya perluasan usaha ternak ayam. Prospek pemasaran yang potensial juga semakin mendukung berkembangnya usaha ternak ayam. Wabah flu burung yang sempat mengancam industri perunggasan dapat dikurangi tangani dengan penerapan biosekuritas yang ketat pada lingkungan kandang. Sudarisman (2004) mengemukakan bahwa biosekuriti mencakup 3 hal utama, yaitu: meminimalkan keberadaan penyakit, meminimalkan kesempatan agen penyakit berhubungan dengan induk semang dan membuat tingkat kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit seminimal mungkin.

Semakin berkembangnya populasi ayam tentunya akan semakin meningkatkan frekuensi pemotongan ternak ayam. Hasil pemotongan ayam, selain menghasilkan daging juga menghasilkan limbah peternakan ayam. Bulu ayam banyak tersedia di tempat-tempat pemotongan ayam. Puastuti dan Adiati (2003) menyatakan bahwa setiap ekor ayam potong dengan bobot kurang lebih 1,5 kg menghasilkan bulu sebanyak 5-6 % dari bobot potong. Jika melihat jumlah populasi ayam, tentu jumlah bulu yang dihasilkan akan melimpah.

Jumlah ayam yang dipotong setiap tahun semakin meningkat, dan hal ini akan menghasilkan jumlah bulu yang melimpah. Jumlah bulu yang sangat banyak jika tidak dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, maka akan mengakibatkan pencemaran lingkungan serta menimbulkan penyakit baik yang menyerang ternak maupun menyerang manusia. Salah satu pemnafaatan bulu adalah digunakan sebagai penyedia protein alternatif pada pakan sebagai pengganti protein yang umumnya diberikan seperti pada bungkil kedelai dan tepung ikan.

Bulu ayam memiliki kandungan protein yang tinggi melebihi kandungan protein kasar dari bungkil kedelai. Akan tetapi kandungan protein kasar yang tinggi tersebut tidak diikuti dengan nilai biologis yang tinggi. Puastuti dan Adiati (2003) menyatakan bulu ayam mengandung protein kasar 80-91% dari bahan kering (BK) melebihi kandungan protein kasar bungkil kedelai (42,5%) dan tepung ikan (66,2%). Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya 5,8% dan 0,7%.

Beberapa metode yang digunakan untuk meningkatkan nilai nutrisi dari bulu ayam, yaitu: (1) Penambahan asam dan basa; (2) Menggunakan bantuan mikroorganisme; (3) Pengaturan temperatur dan tekanan. Adanya faktor antinutrisi dan ketidakseimbangan asam amino bulu ayam setelah pengolahan, maka penggunaan tepung bulu menjadi terbatas untuk ternak ruminansia.

Keunggulan penggunaan tepung bulu ayam untuk ternak ruminansia adalah tepung mengandung protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen (Rumen Undegradable Protein/RUP), tetapi mampu diurai secara enzimatis pada saluran pencernaan pascarumen. Nilai RUP tersebut berkisar 53-88%, sementara nilai kecernaan dalam rumen hanya 12-46%. Penggunaan tepung bulu unggas sebagai bahan pakan sumber protein ternak merupakan salah satu pilihan yang perlu mendapat pertimbangan. Dari hasil pengujian biologis, tepung bulu dapat digunakan sebagai pengganti komponen bahan pakan penyusun konsentrat untuk ternak ruminansia. Substitusi komponen utama pakan tambahan/konsentrat memberikan respons yang baik terhadap pertambahan bobot hidup maupun produksi susu. Respons yang cukup baik tersebut disebabkan adanya keseimbangan protein antara yang mudah didegradasi dan yang lolos degradasi (Puastuti dan Adiati, 2003).
Referensi:

Puastuti, W dan U. Adiati. 2003. Bulu Unggas untuk Pakan Ruminansia. Balai Penelitian Ternak, Bogor.

Sudarisman. 2004. Biosekuritas dan Program Vaksinasi. ASA Poultry Refresher Course. 25-27 April 2000

0 komentar:

Posting Komentar

Konten Paling Sering Dikunjungi