Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 28 Oktober 2011

Domba Batur Ikon Banjarnegara

Oleh Priyono, S.Pt, M.Si
Dosen Peternakan Universitas Muhammadiyah Purworejo

SEPINTAS perawakan domba ini terlihat berbeda dari domba atau kambing lokal lainnya. Pipinya tembem dan bulu di wajahnya bisa memanjang hingga menutupi hampir seluruh wajahnya. Domba dengan bobot yang bisa mencapai 140 kg ini merupakan ternak unggulan di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara.
Hewan yang kerap disebut domba batur ini merupakan persilangan domba jantan eks Tapos (hasil persilangan domba Suffolk dengan domba Texel) dengan domba lokal dieng (domba ekor tipis). Badannya gemuk dengan bulu putih tebal, kakinya pendek, kuat, dan tidak bertanduk.

Karena asalnya dari keturunan domba yang hidup di Inggris dan Belanda dengan empat musimnya, domba berbulu tebal ini tampaknya hanya cocok dibudidayakan di daerah dingin. Di Kecamatan Batur yang berada di Pegunungan Dieng dengan ketinggian 1.663 m dpl dan suhu rata-rata 15-18 derajat Celcius, tidak salah jika jenis domba ini berkembang pesat. Domba ini bisa berbobot dua kali lipat dari domba lokal yaitu antara 60 dan 80 kg dan bobot maksimal 140 kg.

Menurut Edi Puji Waluyo dalam acara ’’Pendampingan dan Penguatan Kelompok Ternak Domba Batur’’ belum lama ini, saat ini ada sedikitnya 400 peternak domba jenis ini yang memelihara sekitar 17 ribu ternak kambing dan domba. Selain untuk dipasarkan di daerah Banjarnegara, domba batur sudah merambah hingga Sumatra. Hal tersebut dipertegas dengan dinobatkannya hewan itu sebagai juara nasional lomba ternak tahun 2003.

Pada awalnya domba batur hanya berkembang di daerah Banjarnegara dan menjadi ikon. Tetapi sejak 2009 ternak tersebut mulai dicoba dikembangkan di beberapa daerah di Jawa dan Sumatra. Keunggulan pengembangannya adalah domba jantan dan betina merupakan tipe ternak potong, penghasil daging yang baik.

Menurut salah satu anggota Kelompok Peternak Mantap di Kecamatan Batur, domba jantan umur 2 tahun rata-rata bobotnya mencapai 100 kg dan betina mencapai 80 kg. Bahkan, domba jantan dapat mencapai 140 kg dan umumnya domba ini digunakan sebagai pejantan.

Hewan ini dapat mulai dikawinkan pada umur 8 bulan de-ngan betina yang telah mencapai bobot 50-60 kg. Satu ekor pejantan domba batur bisa mengawini sedikitnya 10 betina. Jika berhasil, domba betina akan bunting selama kurang lebih 5 bulan dengan rata-rata jumlah anak 1,5 ekor per kelahiran.

Menurut Agrina Online (2010), di Keca-matan Batur, harga domba batur terbagi dalam empat kelas, yaitu kelas 1 (bobot di atas 100 kg) dihargai Rp 4 juta-Rp 5 juta per ekor, kelas 2 (bobot di atas 80 kg) dihargai Rp 1,5 juta-Rp 2 juta, kelas 3 berbobot 70-80 kg dihargai Rp 1 juta, dan kelas 4 dihargai di bawah dihargai Rp 1 juta.

Saat ini, domba batur sudah menjadi ikon Kabupaten Banjarnegara dan kebanggaan Provinsi Jawa Tengah. Upaya pelestarian sangat perlu dilakukan, yaitu dengan menunda menjual bibit-bibit yang bagus untuk dikembangkan.

Kecamatan Batur dengan luas wilayah 4.717,100 ha dan jumlah penduduk pada akhir Desember 2009 sebanyak 38.086 jiwa (19.045 jiwa laki-laki dan 19.041 jiwa perempuan), saat ini memiliki 13 kelompok ternak. Adanya kelompok ternak sangat membantu menguatkan motivasi pengembangan domba batur.

Untuk Hobi Dengan perawatan ternak yang mudah, peternak domba batur sudah serius menggeluti usaha ini sejak 1980-an. Umumnya di Kecamatan Batur, domba ini diberikan pakan rumput antara 6 dan 8 kg dan setiap 3-4 hari diberikan dedak jagung 3 kg untuk kurang lebih 10 ekor domba berbagai umur.

Selain memakan rumput gajah, domba jenis itu mau memakan rumput lapang. Ketersediaan rumput di sekitar lokasi membuat pengeluaran untuk biaya pakan menjadi lebih hemat. Karena itu, biaya perawatan bisa ditekan dan keuntungan dapat dimaksimalkan. Domba jenis itu selain untuk ternak potong (bobot 100 kg domba hidup dapat menghasilkan 42 kg daging) juga bisa menjadi hewan kesayangan. Penampilannya yang menarik membuat beberapa orang memeliharanya untuk tujuan klangenan atau hobi.

Pengembangbiakkannya membutuhkan dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan populasinya. Dengan meningkatnya populasi diharapkan pemasaran bisa diperluas merata di dalam dan di luar Pulau Jawa. (10)

— Priyono SPt MSi, pemerhati ternak ruminansia, tinggal di Semarang

1 komentar:

Vany Shop mengatakan...

Terimakasih broo untuk informasi yang bermanfaat
Kunjungi juga dong Oem Parfum

Posting Komentar

Konten Paling Sering Dikunjungi