Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 26 November 2011

Bijak Memilih Hewan Kurban

Oleh Priyono, S.Pt, M.Si
Dosen Peternakan Universitas Muhammadiyah Purworejo

"Jangan sampai salah memilih hewan yang menyebabkan ketidaknyamanan terhadap sesama dan mengurangi keikhlasan berkurban"

PADA Idul Idul Adha, umat Islam yang mampu secara ekonomi diminta berkurban, dan biasanya menyembelih sapi atau kambing. Saat ini, tingginya permintaan hewan kurban mengakibatkan lalu lintas ternak di berbagai daerah meningkat, tidak terkecuali di Jateng. Konsekuensinya, perlu langkah bijak untuk menentukan kriteria hewan kurban yang aman dan sehat.

Ibadah Kurban mengajarkan bentuk solidaritas kemanusiaan yang termanifestasikan secara jelas dalam pembagian hewan kurban, sekalgus menunjukkan bahwa umat Islam dilatih meningkatkan rasa kemanusiaan, mengasah jiwa sosial, dan mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. Karena itu, hewan kurban benar-benar harus sehat, aman, dan tidak membawa penyakit menular (zoonosis).

Berdasarkan krjogja. com, jumlah hewan yang dikurbankan di Kabupaten Purworejo tahun 2010 naik 10% dibandingkan dengan 2009 yang ‘’hanya’’ sekitar 300 sapi dan 2.000 kambing. Tahun 2010 sedikitnya 380 sapi dan 2.173 kambing dikurbankan oleh masyarakat Kabupaten Purworejo.

Mengantisipasi meningkatnya permintaan hewan kurban pada Idul Adha 1432 H, untuk mengamankan masyarakat dari risiko penularan penyakit, diperlukan pengawasan hewan ternak. Pengawasan dilakukan mulai pemberangkatan ternak dari daerah asal, pengangkutan, penyembelihan, hingga distribusi daging pada orang yang berhak.

Pada dasarnya menyembelih hewan kurban mengandung dua nilai utama, yakni nilai kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Mengingat hal tersebut, jangan sampai salah memilih hewan yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan pada sesama dan mengurangi keikhlasan dalam berkurban secara utuh.

Sesuai dengan Hadis Nabi Muhammad SAW, kriteria hewan yang dikurbankan antara lain harus memenuhi beberapa kriteria pokok kesempurnaan, yakni ternak dalam keadaan cukup umur, sehat (tidak cacat), dan jantan. Sapi dikatakan sudah cukup umur pada umur 22 bulan, sedangkan kambing dan domba dikatakan cukup umur setelah brumur 12 sampai 18 bulan.

Umur ternak dapat diprediksi dengan melihat gigi atau berdasarkan catatan kelahirannya. Metode paling mudah untuk menentukan umur ternak, yaitu dengan mengamati gigi susu yang sudah tanggal. Dua gigi susu di depan tanggal menandakan ternak itu cukup umur. Hewan atau ternak yang sehat dapat diamati dari warna bulu yang mengkilat dan bersih, mata terlihat jernih, bersinar, dan tidak memiliki cacat fisik. Selain itu, lahap mengonsumsi pakan dan minum, serta aktif bergerak.

Keamanan Daging

Berdasarkan ciri fisiknya, ternak yang sehat memiliki tulang punggung yang relatif rata, tanduk seimbang, bentuk kaki simetris, serta komposisi perut, kaki depan, kaki belakang, dan leher yang seimbang. Jika menemukan hal yang tidak lazim, seperti mengeluarkan liur berlebihan atau terdapat bintil merah pada mulut, ternak tersebut perlu diwaspadai.

Dengan meningkatnya jumlah permintaan hewan kurban, masyarakat yang akan membeli dituntut lebih jeli memilih. Di samping kejelian memilih ada pihak lain yang harus memantau pelaksanaan kurban supaya daging yang dibagikan ke masyarakat terjamin keamanannya, terutama dari aspek kesehatan daingnya.

Pemerintah, khususnya Dinas Peternakan atau dinas teknis yang membidangi fungsi kesehatan masyarakat veteriner/ kesehatan hewan di tingkat kabupaten/ kota, diharapkan dapat intens mengawasi pelaksanaan kurban. Selain itu, dibutuhkan peningkatan sarana dan petugas terampil yang menangani.

Pada pelaksanaannya, untuk menjamin keamanan daging bagi masyarakat, diperlukan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat dan dinas terkait, untuk melakukan sosialisasi. Pelaksanaan sosialisasi mengenai penanganan hewan kurban yang halal dan sehat, sebelum dan sesudah disembelih, serta penerapan kesejahteraan hewan (animal welfare), mulai pemeliharaan, pengangkutan, dan penyembelihan, seyogianya dilakukan jauh-jauh hari kepada dewan kemakmuran masjid (DKM), petugas teknis, atau panitia kurban. (10)

— Priyono SPt MSi, dosen Peternakan Universitas Muhammadiyah Purworejo, alumnus Program Beasiswa Unggulan Kemendiknas pada Magister Ilmu Ternak Undip

0 komentar:

Poskan Komentar

Konten Paling Sering Dikunjungi